Kitab MultiWajah

Ditulis Oleh Masdar Farid Mas’udi   

Dalam Ramadan Al-Qur’an diturunkan, dalam Ramadan Al-Qur’an paling banyak dibaca dan diperdengarkan. Membaca ayat-ayat Al-Qur’an, demikian kita selama ini diajari, tanpa mengerti artinya pun sudah ibadah, apalagi bagi yang mengerti. Masya Allah…. Begitulah kemurahan Tuhan, Allah subhanahu wa ta’ala…. Terima kasih Ya Rabb!

Tetapi, apakah maksud Al-Qur’an diturunkan? Apakah sekadar untuk dibaca seperti namanya sendiri, Al-Qur’an, yang berarti bacaan? Jawab kiai saya almarhum yang juga seorang ulama ahli tafsir terkemuka: Tentu saja tidak; dibaca kalimatnya, dimengerti artinya, direnungkan kandungannya, dan diamalkan pesannya. Itulah tujuan seutuhnya.

Tapi, berapa gelintir manusia yang mampu begitu? Belum lagi, kata orang, untuk memahami ayat dengan benar dan tepat, seseorang perlu perangkat ilmu yang macam-macam, terutama yang berkaitan dengan bahasa Arab, dan tidak kalah penting konteks kesejarahan, baik yang juz’iy maupun yang kully. Singkatnya sulit! Hanya segelintir orang yang kayaknya mampu mencapai tingkatan itu.

Kalau begitu, apakah Al-Qur’an hanya boleh dinikmati oleh segelintir orang?
Jawab kiai saya tegas: Tidak! Al-Qur’an, kata beliau, adalah kitab suci yang sangat ramah terhadap setiap pembacanya. Siapa pun mereka, dengan kapasitas keilmuan apa pun dan seberapa pun bisa bercakap-cakap dengannya. Seperti Allah sendiri, tidak pernah pilih kasih hanya kepada yang berpendidikan tinggi, yang ulama, yang sarjana. Semua berhak meraup rahmat-Nya.

Tapi memang, Al-Qur’an sebagaimana yang mensabdakannya (Allah SWT) akan bersikap dan berbicara kepada setiap pembacanya sesuai harapan si pembaca sendiri. Allah bersabda: “Ana ‘inda dhonni ‘abdiy bihi”, artinya,  Aku akan bersikap kepada hamba-Ku sesuai dengan persangkaannya terhadap-Ku”. Artinya, jika Allah dipersangkakan sebagai Yang Mahakasih dan Pemurah, Allah memang Yang Mahakasih dan Pemurah; Sebaliknya, jika dipersepsikan sebagai Yang Maha Kejam dan Pelit, bisa terasa demikian bagi yang bersangkutan. Maka pesan moralnya: berbaik sangkalah selalu
kepada-Nya.

Demikian pula Al-Qur’an. Ia akan tampil dan berbicara kepada sang pembaca sesuai dengan kondisi kebatinan dan kapasitasnya. Ada orang yang membaca Al-Qur’an dengan nurani yang bening penuh kedamaian; ada yang sebaliknya, keruh penuh kebencian.

Juga ada yang membacanya dengan nalar dan keilmuan yang luas; ada juga dengan nalar dan pengetahuan yang sempit dan cetek. Juga ada kalanya seseorang membacanya dengan emosi meledak-ledak, penuh fanatisme dengan pihak tertentu; atau sebaliknya penuh kutukan kepada pihak lain. Al-Qur’an pun akan tampil sesuai dengan kondisi kebatinan dan kapasitas pembacanya..

Itulah sebabnya, Al-Qur’an bisa tampil menjadi kitab suci yang multiwajah. Bagi seorang ilmuwan sosial, ia tiba-tiba hadir sebagai kitab dengan teori-teori sosial yang sangat canggih dan mencerahkan. Atau bagi seorang fisikawan atau filosof, Al-Qur’an pun tampil sepenuhnya sebagai sumber inspirasi teori-teori fisika dan filsafat yang sangat mengagumkan. Atau bagi seorang sufi yang tengah dimabuk cinta, Al-Qur’an pun hadir sebagai surat cinta dari Yang Maha Terkasih yang akan memuaskan kerinduannya.

Juga bagi seorang pembenci kepada sesama, kepada orang atau sekelompok orang yang menurut nafsunya harus dibenci dan dikutuki, Al-Qur’an pun akan tampil sebagai kitab yang mengobarkan kebencian di dadanya. Sebagaimana bagi seorang pembaca Al-Qur’an yang berhati lapang, penuh senyum kedamaian dan rendah hati kepada sesama, Al-Qur’an pun akan tampil sebagai kitab suci dengan wajah berseri-seri penuh keramahan dan kasih sayang yang berlimpah ruah.

Itulah sebabnya, masing-masing orang cenderung memiliki ayat-ayat favorit sendiri-sendiri. Seseorang dengan fanatisme tinggi akan memilih ayat-ayat yang berbeda, bahkan terasa berseberangan, dengan ayat-ayat pilihan mereka yang berlapang dada, penuh tasamuh kepada sesama meski lain paham, keyakinan, atau pilihan politik. Maka kata kiai saya, Al-Qur’an adalah “bacaan” tentang jatidiri kita sendiri juga.

Sejalan dengan pengertian ini, tidak mengherankan sama sekali, alias banyak ditemukan di mana-mana bahwa seseorang/ kelompok yang saling bermusuhan dan saling mengutuk dengan orang/kelompk lain, dengan mengutip ayat-ayat yang berbeda dari kita suci yang sama, atau ayat yang sama dengan pemahaman/tafsir berbeda.

Pertanyaannya, kondisi kebatinan macam manakah yang paling tepat untuk dipersiapkan oleh seseorang yang hendak membaca Al-Qur’an? Kata kiai saya; ajaran berwudu sebelum membaca Al-Qur’an memberikan jawabannya: Bersihkan jari jemarimu, lidah dan mulutmu, hidungmu, matamu, muka dan hatimu, telingamu, kepalamu, dan kakimu dari semua daki dosa dan prasangka kepada Allah dan sesama.

Bacalah ta’awudz, maka Anda akan menemukan Al-Qur’an sebagai sabda dan sekaligus wajah Allah yang sebenarnya: “Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”. Adakah yang lebih kita harapkan dari-Nya melebihi kasih dan sayang-Nya?

Semoga peringatan Nuzulul Quran dapat memperbarui semangat dan suasana kebatinan kita, dapat menggantikan prasangka dan kebencian dengan cinta kasih terhadap sesama, sesama umat, sesama warga bangsa dan sesama manusia, hamba Allah SWT dan ciptaan-Nya.[]

Mengais Pahala Di Bulan Ramadhan

 

 

 Ditulis Oleh KH. Mahsun Muhammad   

 
Alhamdulillah kita telah memasuki bulan suci ramadhan, bulan penuh hikmah, sebuah bulan yang telah Allah pilih sebagai tempat turunnya Alqur’an,taurat,injil dan zabur demikian juga kitab kitab Allah yang lain.Bulan ramadhan adalah bulan dimana didalamnya ada satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan, bulan dimana semua amal kebajikan dilipat gandakan pahalanya sampai lipatan yang manusia sendiri tidak dapat menghitungnya,bulan dimana pintu sorga dibuka selebar lebarnya dan pintu neraka ditutup serapat rapatnya.Syetan syetan dibelenggu,amal sunnah didalam ramadhan sama dengan amalan fardhu di luar ramadhan dan masih banyak lagi nilai nilai yang terdapat di dalamya..

Pada hari ini, kita telah memasuki hari ke … dan telah … hari kita melaksanakan ibadah puasa,maka berbahagialah bagi mereka yang  melaksanakan perintah suci ini dengan suka rela,ikhlas karena Allah dan mengharap ridhaNya semata mata.,sebab, bukan saja mereka akan mendapatkan imbalan pahala yang cukup besar dari pekerjaannya ini,tetapi juga mereka akan suci bersih,diampuni segala dosa dosanya yang telah lewat. Nabi bersabda :
“Barangsiapa berpuasa pada bulan ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Tuhan,maka diampuni segala dosa dosanya yang telah lewat”

Ada tiga penafsiran kata “ihtisaaban” dalam hadits diatas.
Pertama, ihtisaban diartikan sebagai “mengharap pahala dari Tuhan”.
Kedua, ihtisaban diartikan dengan “mencari ridha Allah” dan
Ketiga, ihtisaban diartikan dengan “muhasabah”,intropeksi,menghitung hitung kesalahan dan berusaha memperbaiki sikap diri.

Maka dengan demikian,hadits  diatas akan berarti : barangsiapa berpuasa semata mata menjalankan perintah Allah, menerima dengan rasa lapang dada, tanpa ada rasa keberatan menjalankannya, bukan karena tidak enak kepada teman teman atau tetangga atau menganggapnya sebagai budaya tahunan, kemudian diasaat yang sama memperhatikan betul prilakunya, dijaganya dari perbuatan dosa ,menghisab diri, menghitung hitung kesalahan diri, berusaha memperbaiki diri, maka akan diampuni semua dosa dosanya yang telah lewat.

Kewajiban berpuasa pada hakikatnya memberi peluang kepada manusia untuk sampai kepada nilai takwa yang sesungguhnya, sebagaimana Firman Allah :
 
“Hai orang orang yag beriman,diwajibkan atas kamu berpuasa,sebagaimana diawajibkan atas orang orang sebelum kamu.agar kamu bertakwa”

Dalam ayat ini jelas sekali bahwa tujuan utama diwajibkannya puasa adalah memberi peluang selebar lebarnya kepada orang orang mukmin untuk meraih derajat ketakwaan yang sesungguhnya.

Allah telah memberi peluang kepada kita untuk berkesempatan meraih derajat muttaqiin, maka marilah kita sambut, marilah kita gunakan peluang ini sebaik baiknya,marilah kita laksanakan ibadah ini dengan penuh khidmat,dengan penuh pengabdian kepada Allah dan dengan penuh harapan semoga puasa yang kita laksanakan ini akan benar benar mengantarkan kita ke pintu maghfirah,pintu ampunan dari dosa dosa yang telah kita lakukan.

Dalam rangka mencapai ketakwaan dan maghfirah ini. Nabi saw.sesungguhnya telah memberikan rambu rambu dalam hadits diatas yaitu :
Pertama, puasa yang kita laksanakan haruslah mempunyai dasar iman, hanya karena menjalankan perintah Allah, bukan karena ikut ikutan dan bukan kerena tidak enak kepada teman.

Kedua, puasa yang kita lakukan hendaklah berpijak pada mencari ridha Allah, bukan mengharap ridha selain Allah dan dalam waktu yang bersamaan berupaya memperbaiki sikap diri.

Memperbaiki sikap diri sendiri adalah sumber keselamatan yang paling efektif di zaman yang semakin indifualistis sekarang ini.ia akan menjadi modal utama kita melangkah apapun yang kita lakukan. Seorang yang berpuasa dan berihtisab akan jauh lebih berharga daripada seorang yang berpuasa yang hanya menahan perutnya dari makan dan minum.sebab orang yang berihtisab ketika akan melakukan sesuatu, dia akan bertanya,  apakah yang akan saya lakukan ini diridhai Allah atau tidak? mengganggu puasa atau tidak? Ketika dia akan berbuka, dia akan bertanya apakah makanan yang akan saya makan ini halal atau haram? Demikian seterusnya sehingga dia akan berusaha sekuat tenaga melakukan yang baik baik saja, dia akan mencari makanan yang baik baik saja.  Dia tahu betul bahwa makanan, perbuatan yang melawan hukum dan tidak diridhai Allah, akan menghapus pahala puasa walaupun dia menahan lapar dan dahaga disiang hari.

Pada kenyataannya, memperbaiki diri sendiri, memperbaiki keluarga sediri akan lebih berarti daripada berusaha memperbaiki orang lain. Menyibukkan diri dengan memikirkan kesalahan diri sendiri akan lebih berarti daripada memikirkan kejelekan orang lain,mendahulukan diri sendiri untuk berbuat baik akan lebih baik daripada menunggu orang lain berbuat baik.

Janji pengampunan dosa ini tidak hanya diperuntukkan bagi orang orang yang berpuasa saja,melainkan juga bagi orang orang yang mau meramaikan bulan ramadan,mendirikan bulan ramadhan dan mensyi’arkannya dengan tarawih,tadarrus,kirim mengirim makanan,ibadah malam dan amal kebajikan lainnya.Nabi bersabda  :

Begitu besar nilai yang terkandung didalam puasa sehingga hanya Allah saja yang tahu berapa pahala yang akan diberikan kepada hamba hambaNya .Allah befirman dalam hadits kudsi :

“Semua amalan anak adam adalah untuknya,kecuali puasa,ia adalah untukKu dan Aku sendiri yang akan membalasnya.[]

 

Perjuangan kaum santri cirebon untuk kemerdekaan

Cirebon, kota kecil yang terletak di bagian Timur Jawa Barat, hingga kini, dikenal sebagai salah satu kota ’santri’ di negeri ini, tentu selain Demak, Pekalongan, Kediri, dan beberapa kota lain di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ini bukan tidak beralasan atau sekedar julukan. Sedikitnya ada beberapa indikator bisa dikemukakan, diantaranya; Pertama, sejarah kota dan atau kabupaten Cirebon menunjukkan kaitan eratnya dengan sejarah dan budaya kaum santri. Dimana  kota ini pernah jadi salah satu area Islamisisasi dari gerakan dakwah kultural Wali Songo. Sunan Gunung Djati atau yang dikenal juga dengan Syarif Hidayatullah hadir di Cirebon sebagai pendakwah Islam kultural yang simpatik. Keberadaan Sang Sunan ini selain juga merupakan bagian dari Islamisasi Jawa ala Wali Songo, juga merupakan bagian dari perjalanan membesarkan kerajaan Cirebon masa lampau. Untuk menghormati jasa-jasa Sang Sunan, hingga kini masyarakat Cirebon dan kaum santri pada umumnya ’rajin’ menziarahi pesarean (maqbarah) Sang Sunan, atau setidaknya mengingat wasiatnya yang sangat populis, ”Insun titip tajug lan fakir miskin” (saya titip mushalla dan fakir miskin).
Kedua, banyaknya pesantren di kota dan kabupaten Cirebon. Di Cirebon bagian Timur terdapat ‘kampung pesantren’ Buntet, sebuah kompleks pesantren yang berlokasi di desa Mertapada Kulon. Tidak jauh dari situ, terdapat pesantren Gedongan yang berlokasi di desa Ender. Sementara di wilayah Cirebon Barat bagian Selatan terdapat ‘kampung pesantren’ Babakan Ciwaringin. Di wilayah Cirebon Barat bagian Utara terdapat pesantren Dar Al-Tauhid di desa Arjawinangun, dan pesantren Al-Anwariyah di desa Tegalgubug. Terbentang di antara di antara wilayah Barat bagian Utara dan bagian Selatan, dapat ditemui dua pesantren; pesantren Tahsinul Akhlaq di desa Winong dan ’kampung pesantren’ di desa Kempek Ciwaringin. Ke Selatan sedikit, kita dapat menjumpai pesantren Balerante, Palimanan. Dari Palimanan ke arah Timur, di wilayah Plered, kita juga dapat menjumpai beberapa pesantren. Di Cirebon Kota, juga terdapat banyak pesantren. Sebut saja beberapa diantaranya adalah pesantren Jagasatru, pesantren Istiqomah, dan pesantren Siti Fatimah. Di bagian lain dari Kota Cirebon terdapat pesantren Benda Kerep. Nama-nama dan lokasi pesantren itu hanya sebagian dari yang ada, masih banyak nama dan lokasi pesantren yang sesungguhnya belum disebutkan.
Bukan hanya itu, fakta sejarah membuktikan, bahwa kaum santri Cirebon juga berpartisipasi aktif dalam perjuangan merebut kemerdekaan bangsa ini. Di kampung kelahiran saya, desa Ujungsemi kecamatan Kaliwedi kabupaten Cirebon, terdapat makam pahlawan. Pemerintah setempat menziarahinya setiap hari pahlawan atau hari kemerdekaan RI. Ratusan pahlawan yang gugur dan dikebumikan di situ adalah kaum santri, alias pejuang-pejuang Islam yang terdiri dari kyai-santri yang saling bahu membahu mengusir penjajah. Mereka membela tanah air meski harus bersimbah darah dan kehilangan nyawa.
Ketika saya duduk di bangku sekolah dasar (SD), saya ingat betul, ada orang yang sangat dihormati penduduk kampung. Karena selain dikenal sebagai ahli agama, beliau juga dikenal sebagai salah satu pejuang kemerdekaan yang tersisa. Penduduk memanggilnya Kyai Nurin. Yah Kyai Nurin yang dikenal kebal peluru dan salah seorang santri Kyai Syathori Arjawinangun.
Ketika saya menimba ilmu di pesantren Babakan Ciwaringin, diceritakan oleh para ustadz, bahwa pendiri kampung pesantren Babakan, Kyai Jatira, adalah juga seorang pejuang anti Belanda. ”Seandainya bukan karena perjuangan Kyai Jatira, pesantren Babakan Ciwaringin ini tidak akan ada” kata seorang ustadz di pesantren tempat saya belajar, Assalafie. Perjuangan Kyai Jatira ini terutama pertentangannya terhadap kebijakan penjajah dalam membangun jalan yang akan mengganggu pesantren.  Beliau dengan berani memindahkan ’patok’ penanda pembangunan jalan ke sebelah utara, sehingga tidak mengganggu pesantren. Kaum penjajahpun terkecoh karenanya.
Tidak jauh dari situ, bergeser ke Barat dan Selatan dari Babakan Ciwaringin, ada desa Kedondong kecamatan Susukan, yang juga bertetangga dengan desa Gintung kecamatan Ciwaringin. Dari desa ini ada cerita heroik perjuangan kaum santri melawan penjajah, yang dikenal dengan ’Perang Kedondong’. Dalam perang ini, dengan dipimpin Pangeran Matangaji, kaum santri bahu membahu melawan penjajah. Pangeran Matangaji sendiri adalah keluarga kraton Cirebon (Kasepuhan) yang turun tangan memimpin masyarakat memimpin perlawanan terhadap kolonial. Dalam peperangan ini kaum santri berperang sampai titik darah penghabisan. Banyak kalangan santri yang meninggal. Sementara pangeran Matangaji, menyelematkan diri. Ada yang menyatakan beliau kemudian meninggal di sebuah desa, yang sekarang dikenal sebagai desa Matangaji, Sumber.
Di desa Gintung, sebelah desa Kedondong ada tanah lapang. Penduduk setempat menyebutnya Blambangan. Di tempat inilah kaum santri banyak terbunuh dalam perang kedondong. Beberapa memang selamat, seperti Kyai Abdullah dari Lontang Jaya, kakek Kyai Syathori Arjawinangun. Ada juga yang menyatakan bahwa selain kyai Abdullah, Kyai Jaitra Babakan Ciwaringin dan Kyai Idris dari Kempek Ciwaringin, turut pula dalam peperangan ini. Mereka berdua juga termasuk kyai yang selamat dari senjata kaum penjajah.
Sementara itu Kyai Syatori, pendiri pesantren Arjawinangun, bersama Kyai Abbas Buntet dan Kyai Sonhaji Indramayu beserta beberapa kyai lainnya, berpartisipasi aktif dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI, dari agresi Belanda. Saat itu Kyai Saythori Arjawinangun, Kyai Abbas Buntet dan beberapa kyai lain pergi ke Jawa Timur memenuhi panggilan Kyai Hasyim Asy’ari untuk dimintai pandangan soal mempertahankan tanah air dari serangan agressi Belanda. Perundingan ditunda sampai rombongan kyai Cirebon hadir. Perundingan itulah kemudian yang dijadikan dasar oleh Bung Karno untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda.
Pesantren Buntet sendiri adalah kampung pesantren yang sejak awal didirikan dengan sikap kritis terhadap segala bentuk penjajahan. Pendiri pesantren Buntet, Mbah Muqayyim, dikenal sebagai seorang yang anti kolonialisme, dan tidak mengenal kompromi sedikitpun dengan Belanda. Sikap kerasnya ini pula, yang membuatnya keluar dari lingkungan Kraton Cirebon (Kasepuhan) untuk kemudian membangun basis kekuatan rakyat melalui pendidikan agama (pesantren).
Untuk kepentingan ini, kemudian di pesantren Buntet juga dikembangkan ilmu kanuragan, tentu disamping ilmu-ilmu yang utama, ilmu-ilmu agama. Kyai Abbas, pada masanya, selain dikenal sebagai ahli agama, beliau juga dikenal sebagai guru silat yang cukup mumpuni. Memang, di beberapa pesantren tradisional di Cirebon, ilmu-ilmu kanuragan (kesaktian) ini kerap pula diajarkan. Entah itu sengaja, secara terkurikulum dan bertahap, atau sekedar sebagai hadiah dari Kyai kepada santrinya yang telah menghatamkan (menyelesaikan) kitab-kitab kajian tertentu.
Bahkan pada masa perjuangan kyai-kyai tersebut, di Cirebon dikenal kyai  kanuragan yang merupakan guru kanuragan dari kyai-kyai yang ada di Cirebon. Beliau adalah Kyai Rafi’i dari Kali Tengah, Plered. Pada masanya, kyai-kyai Cirebon tidak akan buru-buru turun mengajarkan ilmu agama di masyarakat sebelum belajar kanuragan kepada beliau.
Saat ini, kiprah kaum santri (kyai-santri) Cirebon bagi bangsa ini tetap tidak bisa diremehkan begitu saja. Cirebon memiliki Kyai Fuad Hasyim (al-marhum), seorang mubaligh kondang dari Buntet. Beliau aktif di Jam’iyyah Nahdlatul Ulama dan gigih mengusung nasionalisme bangsa. Cirebon memiliki Kyai Yahya Masduki (al-marhum) yang dengan gigih menyatakan bahwa persaudaraan sesama anak bangsa dan sesama manusia sama pentingnya dengan persaudaraan sesama muslim. Beliau kyai yang tetap populis, rendah hati, dan tidak berambisi untuk dirinya sendiri.
Cirebon juga memiliki Kyai Syarif Utsman Yahya, yang dengan gigih menyadarkan bangsa akan arti kemerdekaan, nasionalisme, dan arti hidup berbangsa. Atas dasar pandangannya mengenai hak-hak warga negara, beliau dengan berani membela keberadaan Ahamadiyah. Beliau lakukan pernyataan sikap berkali-kali, baik di media lokal, media nasional maupun internasional untuk menyatakan bahwa Ahmadiyah memiliki hak hidup di negeri ini. Beliau terus konsisten melakukan pembelaan ini, meski dikecam oleh beberapa kyai garis keras di Cirebon.
Cirebon juga memiliki Kyai Husein Muhammad, yang dengan gigih memperjuangkan hak-hak perempuan, yang selama ini tertindas. Beliau melakukan ini, bukan sekedar karena ikut-iuktan trend jender, tetapi karena memang Islam mengajarkan kesetaraan dan menolak segala bentuk kezaliman.
Cirebon memiliki kyai dan santri yang luar biasa. Tergantung kita semua, apakah kita akan meneruskan perjuangan kyai-kyai dan guru-guru kita tersebut, atau sebaliknya. Wallahu a’lam bi alshawab.


Tulisan ini diramu dari berbagai sumber, baik pustaka maupun hasil wawancara.
Penulis adalah alumnus pesantren Assalafie Babakan Ciwaringin Cirebon, sekarang aktif di Fahmina Institute dan Lakpesdam NU Cirebon

Rumah Adat Panjalin di Desaku

Lokasi dan Lingkungan
Rumah adat Panjalin terletak di wilayah Desa Panjalin. Desa Panjalin adalah sebuah desa yang berada di lingkungan Kecamatan Sumberjaya Kabupaten Majalengka. Sejak tahun 1982, Desa Panjalin telah dimekarkan menjadi dua desa, yaitu Desa Panjalin Kidul dan Desa Panjalin Lor. Desa Panjalin Kidul terletak di sebelah utara wilayah Kecamatan Sumberjaya dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Cirebon. Adapun batas-batas daerah Desa Panjalin Kidul antara lain
• Sebelah utara berbatasan dengan Desa Panjalin Lor Kecamatan Sumberjaya Kabupaten Majalengka dan Desa Budur Kecamatan Ciwaringin Kabupaten Cirebon,
•    Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Panyingkiran Kecamatan Sumberjaya,
•    Sebelah barat berbatasan dengan Desa Rancaputat Kecamatan Sumberjaya Kabupaten Majalengka,
•    Sebelah timur berbatasan dengan Babakan Ciwaringin Kecamatan Ciwaringin Kabupaten Cirebon.
Secara administratif, pemerintahan Desa Panjalin Kidul terdiri atas lima buah dusun dan 9 Rukun Warga (RW). Setiap dusun dipimpin oleh seorang kepala dusun (Kadus) dengan membawahi sejumlah Rukun Warga (RW) dan Rukun Tetangga (RT). Rukun Tetangga (RT) di Desa Panjalin Kidul seluruhnya berjumlah 24 RT. Jabatan kepala dusun dipilih dan ditetapkan oleh kepala desa yang disebut kuwu dan disyahkan oieh Bupati Majalengka dengan Surat Keputusan. Dalam melaksanakan tugasnya, kepala dusun bertanggung jawab kepada kepala desa.
Jarak orbitrasi Desa Panjalin Kidul terhadap pusat-pusat pemerintahan relatif tidak terlalu jauh, antara lain
• dengan ibukota Kecamatan Sumberjaya berjarak kurang lebih 5 Km, dapat
ditempuh dengan kendaraan bermotor sekitar 15 menit,
•    dengan ibukota Kabupaten Majalengka berjarak kurang lebih 37 Km, dapat
ditempuh dengan kendaraan bermotor sekitar 60 menit,
•    dengan ibukota Propinsi Jawa Barat, Bandung, berjarak kurang lebih 165 Km,
dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor sekitar 3 jam.
Secara geografis, Desa Panjalin Kidul berada pada garis antara 108° – 1090 Bujur Barat dan antara 6° – 7° Lintang Selatan. Adapun keadaan suhu di Desa Panjalin Kidul relatif cukup panas sekitar 28° Celcius dengan kelembaban rata-rata antara 78 % – 84 %. Jumlah curah hujan rata-rata 2.500 mm/tahun dengan jumlah bulan basah sekitar 10 bulan pertahun.
Desa Panjalin Kidul berada pada ketinggian tanah bervariasi antara 150 sampai 200 meter di atas permukaan air taut (dpa), dengan bentuk relief permukaan tanah pedataran. Keadaan tanah umumnya berupa dataran rendah dengan direlief oleh sungai-sungai kecil serta Sungai Ciwaringin di sebelah timur. Sungai Ciwaringin ini, selain merupakan batas desa juga merupakan batas Kabupaten Majalengka dengan Kabupaten Cirebon.
Was wilayah Desa Panjalin Kidul adalah 250 ha. Penggunaan lahan lebih banyak dimanfaatkan sebagai lahan produksi sebesar 151 ha yang berupa lahan sawah teknis sebesar 31 ha, semi teknis sebesar 36 ha, sederhana sebesar 17 ha, dan tadah hujan sebesar 67 ha. Penggunaan lahan untuk pemukiman atau perumahan penduduk sebesar 50 ha, dan sisanya terdiri atas tanah desa, pangangonan dan kuburan.
Persoalan yang cukup dirasakan warga adalah air bersih dan tempat pembuangan limbah dapur. Pada saat musim kemarau panjang melanda daerah ini maka air tanah yang menjadi sumber utama untuk mendapatkan air bersih bagi masyarakat kadang-kadang sulit didapatkan karena sebagian besar sumur-sumur yang ada surut airnya dan kering. Sementara itu, untuk memusnahkan limbah dapur biasa dilakukan dengan cara dibakar atau dibuang ke aliran sungai.

 

 

Sumber: Kampung Adat dan Rumah Adat di Jawa Barat

Disbudpar Jabar 2002

 

Surat An-Nisa satu bukti islam memuliakan wanita

Surat An-Nisa..Satu Bukti islam memuliakan Wanita.September 14, 2008

Oleh : Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah

Berbekal pengetahuan tentang Islam yang tipis, tak sedikit kalangan yang dengan lancangnya menghakimi agama ini, untuk kemudian menelorkan kesimpulan-kesimpulan tak berdasar yang menyudutkan Islam. Salah satunya, Islam dianggap merendahkan wanita atau dalam ungkapan sekarang ‘bias jender’. Benarkah?

Sudah kita maklumi keberadaan wanita dalam Islam demikian dimuliakan, terlalu banyak bukti yang menunjukkan kenyataan ini. Sampai-sampai ada satu surah dalam Al-Qur`anul Karim dinamakan surah An-Nisa`, artinya wanita-wanita, karena hukum-hukum yang berkaitan dengan wanita lebih banyak disebutkan dalam surah ini daripada dalam surah yang lain. (Mahasinut Ta`wil, 3/6)

Untuk lebih jelasnya kita lihat beberapa ayat dalam surah An-Nisa` yang berbicara tentang wanita.

1. Wanita diciptakan dari tulang rusuk laki-laki.

Surah An-Nisa` dibuka dengan ayat:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً

“Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dari jiwa yang satu dan dari jiwa yang satu itu Dia menciptakan pasangannya, dan dari keduanya Dia memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.” (An-Nisa`: 1)

Ayat ini merupakan bagian dari khutbatul hajah yang dijadikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pembuka khutbah-khutbah beliau. Dalam ayat ini dinyatakan bahwa dari jiwa yang satu, Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan pasangannya. Qatadah dan Mujahid rahimahumallah mengatakan bahwa yang dimaksud jiwa yang satu adalah Nabi Adam ‘alaihissalam. Sedangkan pasangannya adalah Hawa. Qatadah mengatakan Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam. (Tafsir Ath-Thabari, 3/565, 566)

Dalam hadits shahih disebutkan:

إِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلْعٍ، وَِإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلْعِ أَعْلاَهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهُ كَسَرْتَهَا، وَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ وَفِيْهَا عِوَجٌ

“Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk. Dan sungguh bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah yang paling atasnya. Bila engkau ingin meluruskannya, engkau akan mematahkannya. Dan jika engkau ingin bersenang-senang dengannya, engkau bisa bersenang-senang namun padanya ada kebengkokan.” (HR. Al-Bukhari no. 3331 dan Muslim no. 3632)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Dalam hadits ini ada dalil dari ucapan fuqaha atau sebagian mereka bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ﭖ ﭗ ﭘ ﭙ ﭚ ﭛ ﭜ dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk. Hadits ini menunjukkan keharusan berlaku lembut kepada wanita, bersikap baik terhadap mereka, bersabar atas kebengkokan akhlak dan lemahnya akal mereka. Di samping juga menunjukkan dibencinya mentalak mereka tanpa sebab dan juga tidak bisa seseorang berambisi agar si wanita terus lurus. Wallahu a’lam.”(Al-Minhaj, 9/299)

2. Dijaganya hak perempuan yatim.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلاَّ تَعُولُوا

“Dan jika kalian khawatir tidak akan dapat berlaku adil terhadap hak-hak perempuan yatim (bilamana kalian menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita lain yang kalian senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kalian khawatir tidak dapat berlaku adil maka nikahilah seorang wanita saja atau budak-budak perempuan yang kalian miliki. Yang demikian itu lebih dekat untuk kalian tidak berlaku aniaya.” (An-Nisa`: 3)

Urwah bin Az-Zubair pernah bertanya kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: وَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى maka Aisyah radhiyallahu ‘anha menjawab, “Wahai anak saudariku1. Perempuan yatim tersebut berada dalam asuhan walinya yang turut berserikat dalam harta walinya, dan si wali ini ternyata tertarik dengan kecantikan si yatim berikut hartanya. Maka si wali ingin menikahinya tanpa berlaku adil dalam pemberian maharnya sebagaimana mahar yang diberikannya kepada wanita lain yang ingin dinikahinya. Para wali pun dilarang menikahi perempuan-perempuan yatim terkecuali bila mereka mau berlaku adil terhadap perempuan-perempuan yatim serta memberinya mahar yang sesuai dengan yang biasa diberikan kepada wanita lain. Para wali kemudian diperintah untuk menikahi wanita-wanita lain yang mereka senangi.” Urwah berkata, “Aisyah menyatakan, ‘Setelah turunnya ayat ini, orang-orang meminta fatwa kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang perkara wanita, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat:

وَيَسْتَفْتُونَكَ فِي النِّسَاءِ

“Dan mereka meminta fatwa kepadamu tentang wanita.” (An-Nisa`: 127)

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ayat yang lain:

وَتَرْغَبُونَ أَنْ تَنْكِحُوهُنَّ

“Sementara kalian ingin menikahi mereka (perempuan yatim).” (An-Nisa`: 127)

Salah seorang dari kalian (yang menjadi wali/pengasuh perempuan yatim) tidak suka menikahi perempuan yatim tersebut karena si perempuan tidak cantik dan hartanya sedikit. Maka mereka (para wali) dilarang menikahi perempuan-perempuan yatim yang mereka sukai harta dan kecantikannya kecuali bila mereka mau berbuat adil (dalam masalah mahar, pent.). Karena keadaan jadi terbalik bila si yatim sedikit hartanya dan tidak cantik, walinya enggan/tidak ingin menikahinya.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 4574 dan Muslim no. 7444)

Masih dalam hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَيَسْتَفْتُونَكَ فِي النِّسَاءِ قُلِ اللهُ يُفْتِيكُمْ فِيهِنَّ وَمَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ فِي يَتَامَى النِّسَاءِ اللاَّتِي لاَ تُؤْتُونَهُنَّ مَا كُتِبَ لَهُنَّ وَتَرْغَبُونَ أَنْ تَنْكِحُوهُنَّ

Dan mereka meminta fatwa kepadamu tentang wanita. Katakanlah, “Allah memberi fatwa kepada kalian tentang mereka dan apa yang dibacakan kepada kalian dalam Al-Qur`an tentang para wanita yatim yang kalian tidak memberi mereka apa yang ditetapkan untuk mereka sementara kalian ingin menikahi mereka.” (An-Nisa`: 127)

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

أُنْزِلَتْ فِي الْيَتِيْمَةِ، تَكُوْنُ عِنْدَ الرَّجُلِ فَتَشْرِكُهُ فِي مَالِهِ، فَيَرْغَبُ عَنْهَا أَنْ يَتَزَوَّجَهَا وَيَكْرَهُ أَنْ يُزَوِّجَهَا غَيْرَهُ، فَيَشْرَكُهُ فِي ماَلِهِ، فَيَعْضِلُهَا، فَلاَ يَتَزَوَّجُهَا وَيُزَوِّجُهَا غَيْرَهُ.

“Ayat ini turun tentang perempuan yatim yang berada dalam perwalian seorang lelaki, di mana si yatim turut berserikat dalam harta walinya. Si wali ini tidak suka menikahi si yatim dan juga tidak suka menikahkannya dengan lelaki yang lain, hingga suami si yatim kelak ikut berserikat dalam hartanya. Pada akhirnya, si wali menahan si yatim untuk menikah, ia tidak mau menikahinya dan enggan pula menikahkannya dengan lelaki selainnya.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 5131 dan Muslim no. 7447)

3. Cukup menikahi seorang wanita saja bila khawatir tidak dapat berlaku adil secara lahiriah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

“Kemudian jika kalian khawatir tidak dapat berlaku adil maka nikahilah seorang wanita saja atau budak-budak perempuan yang kalian miliki.” (An-Nisa`: 3)

Yang dimaksud dengan adil di sini adalah dalam perkara lahiriah seperti adil dalam pemberian nafkah, tempat tinggal, dan giliran. Adapun dalam perkara batin seperti rasa cinta dan kecenderungan hati tidaklah dituntut untuk adil, karena hal ini di luar kesanggupan seorang hamba. Dalam Al-Qur`anul Karim dinyatakan:

وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ فَلاَ تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ

“Dan kalian sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri kalian, walaupun kalian sangat ingin berbuat demikian. Karena itu janganlah kalian terlalu cenderung kepada istri yang kalian cintai sehingga kalian biarkan yang lain telantar.” (An-Nisa`: 129)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan ketika menafsirkan ayat di atas, “Maksudnya, kalian wahai manusia, tidak akan mampu berlaku sama di antara istri-istri kalian dari segala sisi. Karena walaupun bisa terjadi pembagian giliran malam per malam, namun mesti ada perbedaan dalam hal cinta, syahwat, dan jima’. Sebagaimana hal ini dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ‘Abidah As-Salmani, Mujahid, Al-Hasan Al-Bashri, dan Adh-Dhahhak bin Muzahim rahimahumullah.”

Setelah menyebutkan sejumlah kalimat, Ibnu Katsir rahimahullah melanjutkan pada tafsir ayat: فَلاَ تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ maksudnya apabila kalian cenderung kepada salah seorang dari istri kalian, janganlah kalian berlebih-lebihan dengan cenderung secara total padanya, فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ “sehingga kalian biarkan yang lain telantar.” Maksudnya istri yang lain menjadi terkatung-katung. Kata Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Sa’id bin Jubair, Al-Hasan, Adh Dhahhak, Ar-Rabi` bin Anas, As-Suddi, dan Muqatil bin Hayyan, “Makna كَالْمُعَلَّقَةِ, seperti tidak punya suami dan tidak pula ditalak.” (Tafsir Al-Qur`anil Azhim, 2/317)

Bila seorang lelaki khawatir tidak dapat berlaku adil dalam berpoligami, maka dituntunkan kepadanya untuk hanya menikahi satu wanita. Dan ini termasuk pemuliaan pada wanita di mana pemenuhan haknya dan keadilan suami terhadapnya diperhatikan oleh Islam.

4. Hak memperoleh mahar dalam pernikahan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَءَاتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَرِيئًا

“Berikanlah mahar kepada wanita-wanita yang kalian nikahi sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kalian sebagian dari mahar tersebut dengan senang hati maka makanlah (ambillah) pemberian itu sebagai makanan yang sedap lagi baik akibatnya.” (An-Nisa`: 4)

5. Wanita diberikan bagian dari harta warisan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَاْلأَقْرَبُونَ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَاْلأَقْرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ أَوْ كَثُرَ نَصِيبًا مَفْرُوضًا

“Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ayah-ibu dan kerabatnya, dan bagi wanita ada hak bagian dari harta peninggalan ayah-ibu dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan.” (An-Nisa`: 7)

Sementara di zaman jahiliah, yang mendapatkan warisan hanya lelaki, sementara wanita tidak mendapatkan bagian. Malah wanita teranggap bagian dari barang yang diwarisi, sebagaimana dalam ayat:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا

“Wahai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kalian mewarisi wanita dengan jalan paksa.” (An-Nisa`: 19)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menyebutkan, “Dulunya bila seorang lelaki di kalangan mereka meninggal, maka para ahli warisnya berhak mewarisi istrinya. Jika sebagian ahli waris itu mau, ia nikahi wanita tersebut dan kalau mereka mau, mereka nikahkan dengan lelaki lain. Kalau mau juga, mereka tidak menikahkannya dengan siapa pun dan mereka lebih berhak terhadap si wanita daripada keluarga wanita itu sendiri. Maka turunlah ayat ini dalam permasalahan tersebut.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 4579)

Maksud dari ayat ini, kata Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah, adalah untuk menghilangkan apa yang dulunya biasa dilakukan orang-orang jahiliah dari mereka dan agar wanita tidak dijadikan seperti harta yang diwariskan sebagaimana diwarisinya harta benda. (Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an, 5/63)

Bila ada yang mempermasalahkan, kenapa wanita hanya mendapatkan separuh dari bagian laki-laki seperti tersebut dalam ayat:

يُوصِيكُمُ اللهُ فِي أَوْلادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ اْلأُنْثَيَيْنِ

“Allah mewasiatkan kepada kalian tentang pembagian warisan untuk anak-anak kalian, yaitu bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan….” (An-Nisa`: 11)

Maka dijawab, inilah keadilan yang sesungguhnya. Laki-laki mendapatkan bagian yang lebih besar daripada wanita karena laki-laki butuh bekal yang lebih guna memberikan nafkah kepada orang yang di bawah tanggungannya. Laki-laki banyak mendapatkan beban. Ia yang memberikan mahar dalam pernikahan dan ia yang harus mencari penghidupan/penghasilan, sehingga pantas sekali bila ia mendapatkan dua kali lipat daripada bagian wanita. (Tafsir Al-Qur`anil ‘Azhim, 2/160)

6. Suami diperintah untuk berlaku baik pada istrinya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan bergaullah kalian (para suami) dengan mereka (para istri) secara patut.” (An-Nisa`: 19)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat di atas menyatakan: “Yakni perindah ucapan kalian terhadap mereka (para istri) dan perbagus perbuatan serta penampilan kalian sesuai kemampuan. Sebagaimana engkau menyukai bila ia (istri) berbuat demikian, maka engkau (semestinya) juga berbuat yang sama. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam hal ini:

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan para istri memiliki hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.” (Al-Baqarah: 228)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِيْ

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarga (istri)nya. Dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluarga (istri)ku.”2 (Tafsir Al-Qur`anil ‘Azhim, 2/173)

7. Suami tidak boleh membenci istrinya dan tetap harus berlaku baik terhadap istrinya walaupun dalam keadaan tidak menyukainya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

“Kemudian bila kalian tidak menyukai mereka maka bersabarlah karena mungkin kalian tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (An-Nisa`: 19)

Dalam tafsir Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an (5/65), Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ (“Kemudian bila kalian tidak menyukai mereka”), dikarenakan parasnya yang buruk atau perangainya yang jelek, bukan karena si istri berbuat keji dan nusyuz, maka disenangi (dianjurkan) (bagi si suami) untuk bersabar menanggung kekurangan tersebut. Mudah-mudahan hal itu mendatangkan rizki berupa anak-anak yang shalih yang diperoleh dari istri tersebut.”

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Yakni mudah-mudahan kesabaran kalian dengan tetap menahan mereka (para istri dalam ikatan pernikahan), sementara kalian tidak menyukai mereka, akan menjadi kebaikan yang banyak bagi kalian di dunia dan di akhirat. Sebagaimana perkataan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang ayat ini: ‘Si suami mengasihani (menaruh iba) istri (yang tidak disukainya) hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan rizki kepadanya berupa anak dari istri tersebut dan pada anak itu ada kebaikan yang banyak’.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/173)

Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah, jika ia tidak suka satu tabiat/perangainya maka (bisa jadi) ia ridha (senang) dengan tabiat/perangainya yang lain.” (HR. Muslim no. 1469)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Hadits ini menunjukkan larangan (untuk membenci), yakni sepantasnya seorang suami tidak membenci istrinya. Karena bila ia menemukan pada istrinya satu perangai yang tidak ia sukai, namun di sisi lain ia bisa dapatkan perangai yang disenanginya pada si istri. Misalnya istrinya tidak baik perilakunya, tetapi ia seorang yang beragama, atau berparas cantik, atau menjaga kehormatan diri, atau bersikap lemah lembut dan halus padanya, atau yang semisalnya.” (Al-Minhaj, 10/58)

8. Bila seorang suami bercerai dengan istrinya, ia tidak boleh meminta kembali mahar yang pernah diberikannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِنْ أَرَدْتُمُ اسْتِبْدَالَ زَوْجٍ مَكَانَ زَوْجٍ وَءَاتَيْتُمْ إِحْدَاهُنَّ قِنْطَارًا فَلاَ تَأْخُذُوا مِنْهُ شَيْئًا أَتَأْخُذُونَهُ بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا. وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَى بَعْضُكُمْ إِلَى بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا

“Dan jika kalian ingin mengganti istri kalian dengan istri yang lain sedang kalian telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kalian mengambil kembali sedikitpun dari harta tersebut. Apakah kalian akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan menanggung dosa yang nyata? Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.” (An-Nisa`: 20-21)

9. Termasuk pemuliaan terhadap wanita adalah diharamkan bagi mahram si wanita karena nasab ataupun karena penyusuan untuk menikahinya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالاَتُكُمْ وَبَنَاتُ اْلأَخِ وَبَنَاتُ اْلأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللاَّتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللاَّتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللاَّتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلاَئِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلاَبِكُمْ

“Diharamkan atas kalian menikahi ibu-ibu kalian, putri-putri kalian, saudara-saudara perempuan kalian, ‘ammah kalian (bibi/ saudara perempuan ayah), khalah kalian (bibi/ saudara perempuan ibu), putri-putri dari saudara laki-laki kalian (keponakan perempuan), putri-putri dari saudara perempuan kalian, ibu-ibu susu kalian, saudara-saudara perempuan kalian sepersusuan, ibu mertua kalian, putri-putri dari istri kalian yang berada dalam pemeliharaan kalian dari istri yang telah kalian campuri. Tetapi jika kalian belum mencampuri istri tersebut (dan sudah berpisah dengan kalian) maka tidak berdosa kalian menikahi putrinya. Diharamkan pula bagi kalian menikahi istri-istri anak kandung kalian (menantu)…” (An-Nisa`: 23)

Diharamkannya wanita-wanita yang disebutkan dalam ayat di atas untuk dinikahi oleh lelaki yang merupakan mahramnya, tentu memiliki hikmah yang agung, tujuan yang tinggi yang sesuai dengan fithrah insaniah. (Takrimul Mar`ah fil Islam, Asy-Syaikh Muhammad Jamil Zainu, hal. 16)

Di akhir ayat di atas, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ اْلأُخْتَيْنِ إِلاَّ مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

“(Diharamkan atas kalian) menghimpunkan dalam pernikahan dua wanita yang bersaudara, kecuali apa yang telah terjadi di masa lampau. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nisa`: 23)

Ayat di atas menetapkan bahwa seorang lelaki tidak boleh mengumpulkan dua wanita yang bersaudara dalam ikatan pernikahan karena hal ini jelas akan mengakibatkan permusuhan dan pecahnya hubungan di antara keduanya. (Takrimul Mar`ah fil Islam, Muhammad Jamil Zainu, hal. 16)

Demikian beberapa ayat dalam surah An-Nisa` yang menyinggung tentang wanita. Apa yang kami sebutkan di atas bukanlah membatasi, namun karena tidak cukupnya ruang, sementara hanya demikian yang dapat kami persembahkan untuk pembaca yang mulia. Allah Subhanahu wa Ta’ala-lah yang memberi taufik.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

1 Karena ibu ‘Urwah, Asma` bintu Abi Bakr radhiyallahu ‘anhuma adalah saudara perempuan Aisyah radhiyallahu ‘anha.

2 HR. At-Tirmidzi, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah.

Diambil dari : http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=1282

Puding Alpukat

Bahan : 

  • 2 bungkus Agar – agar bubuk putih
  • 2 buah Alpukat
  • 250 gr Gula pasir
  • 900 cc Susu cair tawar
  • 100 cc Air panas
  • 1 sdm Kopi instan bubuk
  • 1 sdm Mocca pasta 

Cara Membuat : 

  • Belah alpukat jadi dua, buang bijinya, ambil dagingnya dan cincang halus, sisihkan.
  • Campur kopi instan dengan air panas hingga larut.
  • Masak agar – agar, gula, susu cair dan kopi instan dalam panci hingga mendidih, aduk – aduk.
  • Tambahkan alpukat dan mocca pasta, aduk rata, angkat.
  • Kalau sudah agak dingin, simpan dalam cetakan yang telah disediakan.
  • Masukkan kedalam lemari pendingin, potong – potong dan sajikan dalam keadaan dingin

Es Cendol

  • 1 bagian Tepung hunkue
  • 4 gelas Air
  • Daun suji (untuk sepuhan hijau)
  • 1/2 btr Kelapa (ambil santannya 2 gelas)
  • 1/4 kg Gula merah
  • 1/2 ons Gula pasir
  • 2 lbr Daun pandan (sobek dan ikat)
  • Garam secukupnya 

Cara Membuat : 

  • Rebus gula merah dan gula pasir, tambahkan daun pandan dan sisihkan.
  • Campurkan tepung hunkue dengan air dan sepuhan hijau daun suji.
  • Rebus diatas api kecil, aduk – aduk sampai warnanya bening.
  • Sediakan panci berisi air dingin, diatasnya beri saringan cendol (dari kawat).
  • Tuangkan campuran tepung tadi diatasnya sehingga menjadikan bentuk – bentuk yang keluar dari dasar saringan.
  • Bentuk – bentuk tadi akan langsung masuk kedalam air dingin, supaya satu sama lain tidak melekat.
  • Sajikan dengan larutan gula, santan dan es batu.

Kue Nastar

Bahan : 

  • 250 gr Tepung terigu  
  • 30 gr Tepung maizena
  • 225 gr Mentega
  • 20 gr Susu bubuk
  • 60 gr Gula halus
  • 2 btr Kuning telur
  • 1/4 sdt Garam halus
  • Cengkih untuk hiasan 

Selai Nanas : 

  • 400 gr Nanas matang
  • 200 gr Gula pasir
  • 3 buah Cengkih
  • 5 cm Kayu manis (1/4 sdt bubuk kayu manis)
  • 1/4 sdt Garam halus 

Olesan, aduk rata :  

  • 3 btr Kuning telur  
  • 2 sdm Susu tawar cair (1 sdm susu bubuk, larutkan dengan 2 sdm air)  

Cara Membuat Selai :  

  • Kupas nanas lalu diparut, tambahkan gula pasir dan garam, aduk rata.  
  • Masukkan cengkih dan kayu manis kedalamnya.  
  • Masak sambil diaduk – aduk, hingga matang (sampai airnya mengering).  
  • Angkat, dinginkan dan sisihkan.  

Cara Membuat :  

  • Campur tepung terigu, tepung maizena dan susu bubuk, aduk rata kemudian diayak.  
  • Tambahkan gula halus, kuning telur, mentega dan garam ke dalam campuran tepung.  
  • Kocok dengan mixer kecepatan rendah (gunakan satu gigi) hingga terbentuk adonan yang berbutir-butir.  
  • Padatkan adonan dengan tangan atau sendok kayu sehingga terbentuk adonan yang bisa dibentuk.  
  • Ambil sejumput adonan, bentuk menjadi bulatan dan pipihkan.  
  • Isi tengahnya dengan 1/2 sdt selai nanas dan bulatkan kembali.  
  • Letakkan kue yang telah dibentuk diatas loyang yang telah diolesi mentega.  
  • Olesi permukaannya dengan bahan olesan, kemudian tancapkan satu buah cengkih diatasnya.  
  • Panggang kue dalam oven dengan suhu 150º C selama 20 menit (hingga kue matang dan berwarna kuning kecokelatan).  
  • Angkat, dinginkan dan simpan dalam stoples kedap udara (untuk 550 gr).  

Tips :  

  • Jangan mengaduk adonan dengan tangan terlalu lama karena panas tangan akan mencairkan lemak dalam adonan, akibatnya kue kering akan keras / tidak rapuh.  
  • Aduk seperlunya hingga adonan sudah bisa dibentuk dan untuk variasi rasa, selai nanas bisa diganti selai sesuai selera.  

Kasatlah Air Matamu Wahai Wanita

Apabila hati terikat dengan Allah, kembalilah wanita dengan asal fitrah kejadiannya, menyejukkan hati dan menjadi perhiasan kepada dunia – si gadis dengan sifat sopan dan malu, anak yang taat kepada ibu bapa, isteri yang menyerahkan kasih sayang, kesetiaan dan ketaatan hanya pada suami.”

Bait-bait kata itu aku tatapi dalam-dalam. Penuh penghayatan. Kata-kata yang dinukilkan dalam sebuah majalah yang ku baca. Alangkah indahnya jika aku bisa menjadi perhiasan dunia seperti yang dikatakan itu. Ku bulatkan tekad di hatiku. Aku ingin menjadi seorang gadis yang sopan, anak yang taat kepada ibu bapaku dan aku jua ingin menjadi seorang isteri yang menyerahkan kasih sayang, kesetiaan dan ketaatan hanya untuk suami, kerana Allah.

Menjadi seorang isteri….kepada insan yang disayangi…..idaman setiap wanita. Alhamdulillah, kesyukuran aku panjatkan ke hadrat Ilahi atas nikmat yang dikurniakan kepadaku.

Baru petang tadi, aku sah menjadi seorang isteri setelah mengikat tali pertunangan 6 bulan yang lalu. Suamiku, Muhammad Harris, alhamdulillah menepati ciri-ciri seorang muslim yang baik. Aku berazam untuk menjadi isteri yang sebaik mungkin kepadanya.

“Assalamualaikum,” satu suara menyapa pendengaranku membuatkan aku gugup seketika.

“Waalaikumusalam,” jawabku sepatah. Serentak dengan itu, ku lontarkan satu senyuman paling ikhlas dan paling manis untuk suamiku. Dengan perlahan dia melangkah menghampiriku.

Ain buat apa dalam bilik ni ? Puas abang cari Ain dekat luar tadi. Rupanya kat sini buah hati abang ni bersembunyi. `’

Aku tersenyum mendengar bicaranya. Terasa panas pipiku ini. Inilah kali pertama aku mendengar ucapan `abang’ dari bibirnya.

Dan itulah juga pertama kali dia membahasakan diriku ini sebagai `buah hati’ nya. Aku sungguh senang mendengar ucapan itu. Perlahan-lahan ku dongakkan wajahku dan aku memberanikan diri menatap pandangan matanya.

Betapa murninya sinaran cinta yang terpancar dari matanya, betapa indahnya senyumannya, dan betapa bermaknanya renungannya itu. Aku tenggelam dalam renungannya, seolah-olah hanya kami berdua di dunia ini.

Seketika aku tersedar kembali ke alam nyata. “Ain baru je masuk. Nak mandi. Lagipun dah masuk Maghrib kan ? `’ ujarku.

`’ Ha’ah dah maghrib. Ain mandi dulu. Nanti abang mandi dan kita solat Maghrib sama-sama ye ? `’Dia tersenyum lagi. Senyum yang menggugah hati kewanitaanku. Alangkah beruntungnya aku memilikimu, suamiku

Selesai solat Maghrib dan berdoa, dia berpusing mengadapku. Dengan penuh kasih, ku salami dan ku cium tangannya, lama.

Aku ingin dia tahu betapa dalam kasih ini hanya untuknya. Dan aku dapat merasai tangannya yang gagah itu mengusap kepalaku dengan lembut. Dengan perlahan aku menatap wajahnya.

“Abang…..” aku terdiam seketika. Terasa segan menyebut kalimah itu di hadapannya. Tangan kami masih lagi saling berpautan. Seakan tidak mahu dilepaskan. Erat terasa genggamannya.

“Ya sayang…” Ahhh….bicaranya biarpun satu kalimah, amat menyentuh perasaanku.

“Abang… terima kasih atas kesudian abang memilih Ain sebagai isteri biarpun banyak kelemahan Ain. Ain insan yang lemah, masih perlu banyak tunjuk ajar dari abang. Ain harap abang sudi pandu Ain. Sama-sama kita melangkah hidup baru, menuju keredhaan Allah.” Tutur bicaraku ku susun satu persatu.
Ain, sepatutnya abang yang harus berterima kasih kerana Ain sudi terima abang dalam hidup Ain. Abang sayangkan Ain. Abang juga makhluk yang lemah, banyak kekurangan. Abang harap Ain boleh terima abang seadanya. Kita sama-sama lalui hidup baru demi redhaNya.”

`’Insya Allah abang….Ain sayangkan abang. `’

`’Abang juga sayangkan Ain. Sayang sepenuh hati abang.”

Dengan telekung yang masih tersarung, aku tenggelam dalam pelukan suamiku.

Hari-hari yang mendatang aku lalui dengan penuh kesyukuran. Suamiku, ternyata seorang yang cukup penyayang dan penyabar. Sebagai wanita aku tidak dapat lari daripada rajuk dan tangis.

Setiap kali aku merajuk apabila dia pulang lewat, dia dengan penuh mesra memujukku, membelaiku. Membuatku rasa bersalah. Tak wajar ku sambut kepulangannya dengan wajah yang mencuka dan dengan tangisan.

Bukankah aku ingin menjadi perhiasan yang menyejukkan hati suami? Sedangkan Khadijah dulu juga selalu ditinggalkan Rasulullah untuk berkhalwat di Gua Hira’.
Lalu, ku cium tangannya, ku pohon ampun dan maaf. Ku hadiahkan senyuman untuknya. Katanya senyumku bila aku lepas menangis, cantik!

Ahhh….dia pandai mengambil hatiku. Aku semakin sayang padanya. Nampaknya hatiku masih belum sepenuhnya terikat dengan Allah. Lantaran itulah aku masih belum mampu menyerahkan seluruh kasih sayang, kesetiaan dan ketaatan hanya untuk suami.

`’ Isteri yang paling baik ialah apabila kamu memandangnya, kamu merasa senang, apabila kamu menyuruh, dia taat dan apabila kamu berpergian, dia menjaga maruahnya dan hartamu .`’

Aku teringat akan potongan hadis itu. Aku ingin merebut gelaran isteri solehah. Aku ingin segala yang menyenangkan buat suamiku. Tuturku ku lapis dengan sebaik mungkin agar tidak tercalar hatinya dengan perkataanku. Ku hiaskan wajahku hanya untuk tatapannya semata-mata.

Makan minumnya ku jaga dengan sempurna. Biarpun aku jua sibuk lantaran aku juga berkerjaya. Pernah sekali, aku mengalirkan air mata lantaran aku terlalu penat menguruskan rumah tangga apabila kembali dari kerja. Segalanya perlu aku uruskan. Aku terasa seperti dia tidak memahami kepenatanku sedangkan kami sama-sama memerah keringat mencari rezeki.

Namun, aku teringat akan kisah Siti Fatimah, puteri Rasulullah yang menangis kerana terlalu penat menguruskan rumah tangga.
Aku teringat akan besarnya pahala seorang isteri yang menyiapkan segala keperluan suaminya. Hatiku menjadi sejuk sendiri.

Ya Allah, aku lakukan segala ini ikhlas keranaMu. Aku ingin mengejar redha suamiku demi untuk mengejar redhaMu. Berilah aku kekuatan, Ya Allah.

” Ain baik, cantik. Abang sayang Ain.`’ Ungkapan itu tidak lekang dari bibirnya. Membuatkan aku terasa benar-benar dihargai. Tidak sia-sia pengorbananku selama ini. Betapa bahagianya menjadi isteri yang solehah.

Kehidupan yang ku lalui benar-benar bermakna, apatah lagi dengan kehadiran 2 orang putera dan seorang puteri. Kehadiran mereka melengkapkan kebahagiaanku.

Kami gembira dan bersyukur kepada Allah atas nikmat yang dikurniakan kepada kami.

Namun, pada suatu hari, aku telah dikejutkan dengan permintaannya yang tidak terduga.

“Ain…..abang ada sesuatu nak cakap dengan Ain.”
Apa dia abang?” tanyaku kembali. Aku menatap wajahnya dengan penuh kasih. `’ Ain isteri yang baik. Abang cukup bahagia dengan Ain. Abang bertuah punya Ain sebagai isteri,” bicaranya terhenti setakat itu. Aku tersenyum. Namun benakku dihinggap persoalan. Takkan hanya itu?

“Abang ada masalah ke?” Aku cuba meneka.

“Tidak Ain. Sebenarnya……,” bicaranya terhenti lagi. Menambah kehairanan dan mencambahkan kerisauan di hatiku. Entah apa yang ingin diucapkannya.

“Ain……abang…..abang nak minta izin Ain……untuk berkahwin lagi,” ujarnya perlahan namun sudah cukup untuk membuat aku tersentak. Seketika aku kehilangan kata.

“A…..Abang…..nak kahwin lagi?” aku seakan tidak percaya mendengar permintaannya itu. Ku sangka dia telah cukup bahagia dengannku. Aku sangka aku telah memberikan seluruh kegembiraan padanya. Aku sangka hatinya telah dipenuhi dengan limpahan kasih sayangku seorang.

Rupanya aku silap. Kasihku masih kurang. Hatinya masih punya ruang untuk insan selain aku.

Tanpa bicara, dia mengangguk. `’ Dengan siapa abang ? `’ Aku bertanya. Aku tidak tahu dari mana datang kekuatan untuk tidak mengalirkan air mata. Tapi….hatiku… hanya Allah yang tahu betapa azab dan pedih hati ini.
Faizah. Ain kenal dia, kan ? `’

Ya, aku kenal dengan insan yang bernama Faizah itu. Juniorku di universiti. Rakan satu jemaah. Suamiku aktif dalam jemaah dan aku tahu Faizah juga aktif berjemaah.

Orangnya aku kenali baik budi pekerti, sopan tingkah laku, indah tutur kata dan ayu paras rupa. Tidakku sangka, dalam diam suamiku menaruh hati pada Faizah.

” A….Abang……Apa salah Ain abang?” nada suaraku mula bergetar. Aku cuba menahan air mataku daripada gugur. Aku menatap wajah Abang Harris sedalam-dalamnya. Aku cuba mencari masih adakah cintanya untukku.

“Ain tak salah apa-apa sayang. Ain baik. Cukup baik. Abang sayang pada Ain.”

“Tapi….Faizah. Abang juga sayang pada Faizah….bermakna…..sayang abang tidak sepenuh hati untuk Ain lagi.”
Ain…..sayang abang pada Ain tidak berubah. Ain cinta pertama abang. Abang rasa ini jalan terbaik. Tugasan dalam jemaah memerlukan abang banyak berurusan dengan Faizah….Abang tak mahu wujud fitnah antara kami.

Lagipun….abang lelaki Ain. Abang berhak untuk berkahwin lebih dari satu. `’

Bicara itu kurasakan amat tajam, mencalar hatiku. Merobek jiwa ragaku. Aku mengasihinya sepenuh hatiku. Ketaatanku padanya tidak pernah luntur. Kasih sayangku padanya tidak pernah pudar. Aku telah cuba memberikan layanan yang terbaik untuknya. Tapi inikah hadiahnya untukku?

Sesungguhnya aku tidak menolak hukum Tuhan. Aku tahu dia berhak. Namun, alangkah pedihnya hatiku ini mendengar ucapan itu terbit dari bibirnya. Bibir insan yang amat ku kasihi.

Malam itu, tidurku berendam air mata. Dalam kesayuan, aku memandang wajah Abang Harris penuh kasih. Nyenyak sekali tidurnya.

Sesekali terdetik dalam hatiku, bagaimana dia mampu melelapkan mata semudah itu setelah hatiku ini digurisnya dengan sembilu.

Tidak fahamkah dia derita hati ini? Tak cukupkah selama ini pengorbananku untuknya? Alangkah peritnya menahan kepedihan ini. Alangkah pedihnya
Selama seminggu, aku menjadi pendiam apabila bersama dengannya. Bukan aku sengaja tetapi aku tidak mampu membohongi hatiku sendiri. Tugasku sebagai seorang isteri aku laksanakan sebaik mungkin, tapi aku merasakan segalanya tawar. Aku melaksanakannya tidak sepenuh hati.

Oh Tuhan…..ampuni daku. Aku sayang suamiku, tapi aku terluka dengan permintaannya itu.

Apabila bertembung dua kehendak, kehendak mana yang harus /> dituruti. Kehendak diri sendiri atau kehendak Dia ?

Pastinya kehendak Dia. Apa lagi yang aku ragukan? Pasti ada hikmah Allah yang tersembunyi di sebalik ujian yang Dia turunkan buatku ini. Aku berasa amat serba-salah berada dalam keadaan demikian.

Aku rindukan suasana yang dulu. Riang bergurau senda dengan suamiku. Kini, aku hanya terhibur dengan keletah anak-anak.

Senyumku untuk Abang Harris telah tawar, tidak berperisa. Yang nyata, aku tidak mampu bertentang mata dengannya lagi. Aku benar-benar terluka.

Namun, Abang Harris masih seperti dulu. Tidak jemu dia memelukku setelah pulang dari kerja walau sambutan hambar. Tidak jemu dia mencuri pandang merenung wajahku walau aku selalu melarikan pandangan dari anak matanya.
Tidak jemu ucapan kasihnya untukku. Aku keliru. Benar-benar keliru. Adakah Abang Harris benar-benar tidak berubah sayangnya padaku atau dia hanya sekadar ingin mengambil hatiku untuk membolehkan dia berkahwin lagi?

`Oh Tuhan…berilah aku petunjukMu.’ Dalam kegelapan malam, aku bangkit sujud menyembahNya, mohon petunjuk dariNya. Aku mengkoreksi kembali matlamat hidupku.

Untuk apa segala pengorbananku selama ini untuk suamiku ? Untuk mengejar cintanya atau untuk mengejar redha Allah
Ya Allah, seandainya ujian ini Engkau timpakan ke atas ku untuk menguji keimananku, aku rela Ya Allah. Aku rela.

Biarlah… Bukan cinta manusia yang ku kejar. Aku hanya mengejar cinta Allah. Cinta manusia hanya pemangkin. Bukankah aku telah berazam, aku inginkan segala yang menyenangkan buat suamiku?

Dengan hati yang tercalar seguris luka, aku mengizinkan Abang Harris berkahwin lagi. Dan, demi untuk mendidik hati ini, aku sendiri yang menyampaikan hasrat Abang Harris itu kepada Faizah.

Suamiku pada mulanya agak terkejut apabila aku menawarkan diri untuk merisik Faizah.

“Ain?……Ain serius?”

“Ya abang. Ain sendiri akan cakap pada Faizah. Ain lakukan ini semua atas kerelaan hati Ain sendiri. Abang jangan risau…Ain jujur terhadap abang. Ain tak akan khianati abang. Ain hanya mahu lihat abang bahagia,” ujarku dengan senyuman tawar. Aku masih perlu masa untuk mengubat luka ini. Dan inilah satu caranya. Ibarat menyapu ubat luka. Pedih, tetapi cepat sembuhnya.

Aku mengumpul kekuatan untuk menjemput Faizah datang ke rumahku. Waktu itu, suamiku tiada di rumah dan dia telah memberi keizinan untuk menerima kedatangan Faizah. Faizah dengan segala senang hati menerima undanganku.
Sememangnya aku bukanlah asing baginya. Malah dia juga mesra dengan anak-anakku.

`’ Izah……akak jemput Izah ke mari sebab ada hal yang akak nak
cakapkan, `’ setelah aku merasakan cukup kuat, aku memulakan bicara.

`’ Apa dia, Kak Ain. Cakaplah, `’ lembut nada suaranya.

“Abang Harris ada pernah cakap apa-apa pada Faizah?”

“Maksud Kak Ain, Ustaz Harris?” Ada nada kehairanan pada suaranya. Sememangnya kami memanggil rakan satu jemaah dengan panggilan Ustaz dan Uztazah. Aku hanya mengangguk.

” Pernah dia cakap dia sukakan Izah?”

“Sukakan Izah? Isyyy….tak mungkinlah Kak Ain. Izah kenal Ustaz Harris. Dia kan amat sayangkan akak. Takkanlah dia nak sukakan saya pula. Kenapa Kak Ain tanya macam tu? Kak Ain ada dengar cerita dari orang ke ni? `’

`’ Tidak Izah. Tiada siapa yang membawa cerita…….” Aku terdiam seketika. “Izah, kalau Kak Ain cakap dia sukakan Izah dan nak ambil Izah jadi isterinya, Izah suka?” Dengan amat berat hati, aku tuturkan
kalimah itu.
Sememangnya aku bukanlah asing baginya. Malah dia juga mesra dengan anak-anakku.

`’ Izah……akak jemput Izah ke mari sebab ada hal yang akak nak
cakapkan, `’ setelah aku merasakan cukup kuat, aku memulakan bicara.

`’ Apa dia, Kak Ain. Cakaplah, `’ lembut nada suaranya.

“Abang Harris ada pernah cakap apa-apa pada Faizah?”

“Maksud Kak Ain, Ustaz Harris?” Ada nada kehairanan pada suaranya. Sememangnya kami memanggil rakan satu jemaah dengan panggilan Ustaz dan Uztazah. Aku hanya mengangguk.

” Pernah dia cakap dia sukakan Izah?”

“Sukakan Izah? Isyyy….tak mungkinlah Kak Ain. Izah kenal Ustaz Harris. Dia kan amat sayangkan akak. Takkanlah dia nak sukakan saya pula. Kenapa Kak Ain tanya macam tu? Kak Ain ada dengar cerita dari orang ke ni? `’

`’ Tidak Izah. Tiada siapa yang membawa cerita…….” Aku terdiam seketika. “Izah, kalau Kak Ain cakap dia sukakan Izah dan nak ambil Izah jadi isterinya, Izah suka?” Dengan amat berat hati, aku tuturkan
kalimah itu.

Kak Ain!” jelas riak kejutan terpapar di wajahnya. `’ Apa yang Kak Ain cakap ni ? Jangan bergurau hal sebegini Kak Ain, `’ kata Faizah seakan tidak percaya. Mungkin kerana aku sendiri yang menutur ayat itu. Isteri kepada Muhammad Harris sendiri merisik calon isteri kedua suaminya. 

“Tidak Izah. Akak tak bergurau……Izah sudi jadi saudara Kak Ain?” ujarku lagi. Air mataku seolah ingin mengalir tapi tetap aku tahan. Faizah memandang tepat ke wajahku.

“Kak Ain. Soal ini bukan kecil Kak Ain. Kak Ain pastikah yang……Ustaz Harris…..mahu… melamar saya?”

Dari nada suaranya, aku tahu Faizah jelas tidak tahu apa-apa. Faizah gadis yang baik. Aku yakin dia tidak pernah menduga suamiku akan membuat permintaan seperti ini. Lantas, aku menceritakan kepada Faizah akan hasrat suamiku.

Demi untuk memudahkan urusan jemaah, untuk mengelakkan fitnah. Faizah termenung mendengar penjelasanku.

“Kak Ain…..saya tidak tahu bagaimana Kak Ain boleh hadapi semuanya ini dengan tabah. Saya kagum dengan semangat Kak Ain. Saya minta maaf kak. Saya tak tahu ini akan berlaku. Saya tak pernah menyangka saya menjadi punca hati Kak Ain terluka,” ujarnya sebak. Matanya ku lihat berkaca-kaca.

“Izah…Kak Ain tahu kamu tak salah. Kak Ain juga tak salahkan Abang
Harris. Mungkin dia fikir ini jalan terbaik. Dan akak tahu, dia berhak dan mampu untuk melaksanakannya. Mungkin ini ujian untuk menguji keimanan Kak Ain.”

“Kak…maafkan Izah.” Dengan deraian air mata, Faizah meraihku ke dalam elukannya. Aku juga tidak mampu menahan sebak lagi. Air mataku terhambur jua. Hati wanita. Biarpun bukan dia yang menerima kepedihan ini, tetapi tersentuh jua hatinya dengan kelukaan yang ku alami. Memang hanya wanita yang memahami hati wanita yang lain.

“Jadi…Izah setuju?” Soalku apabila tangisan kami telah reda.

`’ Kak Ain….ini semua kejutan buat Izah. Izah tak tahu nak cakap. Izah tak mahu lukakan hati Kak Ain.”

“Soal Kak Ain….Izah jangan risau, hati Kak Ain…Insya Allah tahulah akak mendidiknya. Yang penting akak mahu Abang Harris bahagia. Dan akak sebenarnya gembira kerana Faizah pilihannya. Bukannya gadis lain yang akak tak tahu hati budinya. Insya Allah Izah. Sepanjang Kak Ain mengenali Abang Harris dan sepanjang akak hidup sebumbung dengannya, dia seorang yang baik, seorang suami yang soleh, penyayang dan penyabar. Selama ini akak gembira dengan dia. Dia seorang calon yang baik buat Izah. `’

“Akak…..Izah terharu dengan kebaikan hati akak. Tapi bagi Izah masa dan Izah perlu tanya ibu bapa Izah dulu.”

“Seeloknya begitulah. Kalau Izah setuju, Kak Ain akan cuba cakap pada ibu bapa Izah.”
Pertemuan kami petang itu berakhir. Aku berasa puas kerana telah menyampaikan hasrat suamiku. `Ya Allah…..inilah pengorbananku untuk membahagiakan suamiku. Aku lakukan ini hanya semata-mata demi redhaMu.’

Pada mulanya, keluarga Faizah agak keberatan untuk membenarkan Faizah menjadi isteri kedua Abang Harris. Mereka khuatir Faizah akan terabai dan bimbang jika dikata anak gadis mereka merampas suami orang.

Namun, aku yakinkan mereka akan kemampuan suamiku. Alhamdulillah, keluarga Faizah juga adalah keluarga yang menitikberatkan ajaran agama. Akhirnya, majlis pertunangan antara suamiku dan Faizah diadakan jua.

“Ain…..abang minta maaf sayang,” ujar suamiku pada suatu hari,
beberapa minggu sebelum tarikh pernikahannya dengan Faizah.

“Kenapa?”

“Abang rasa serba salah. Abang tahu abang telah lukakan hati Ain. Tapi….Ain sedikit pun tidak marahkan abang. Ain terima segalanya demi untuk abang. Abang terharu. Abang….malu dengan Ain.”
Abang….syurga seorang isteri itu terletak di bawah tapak kaki suaminya. Redha abang pada Ain Insya Allah, menjanjikan redha Allah pada Ain. Itu yang Ain cari abang. Ain sayangkan abang. Ain mahu abang gembira. Ain anggap ini semua ujian Allah abang. `’

`’ Ain….Insya Allah abang tak akan sia-siakan pengorbanan Ain ini.
Abang bangga sayang. Abang bangga punya isteri seperti Ain. Ain adalah cinta abang selamanya. Abang cintakan Ain.”

“Tapi…abang harus ingat. Tanggungjawab abang akan jadi semakin berat. Abang ada dua amanah yang perlu dijaga. Ain harap abang dapat laksanakan tanggungjawab abang sebaik mungkin.”

“Insya Allah abang akan cuba berlaku seadilnya.” Dengan lembut dia mengucup dahiku. Masih hangat seperti dulu. Aku tahu kasihnya padaku tidak pernah luntur. Aku terasa air jernih yang hangat mula membasahi pipiku. Cukuplah aku tahu, dia masih sayangkan aku seperti dulu walaupun masanya bersamaku nanti akan terbatas.

Pada hari pertama pernikahan mereka, aku menjadi lemah. Tidak bermaya. Aku tiada daya untuk bergembira. Hari itu sememangnya amat perit bagiku walau aku telah bersedia untuk menghadapinya.
Malam pertama mereka disahkan sebagai suami isteri adalah malam pertama aku ditinggalkan sendirian menganyam sepi. Aku sungguh sedih. Maha hebat gelora perasaan yang ku alami. Aku tidak mampu lena walau sepicing pun. Hatiku melayang terkenangkan Abang Harris dan Faizah. Pasti mereka berdua bahagia menjadi pengantin baru.

Bahagia melayari kehidupan bersama, sedangkan aku ? Berendam air mata mengubat rasa kesepian ini. Alhamdulillah. Aku punya anak-anak. Merekalah teman
bermainku.

Seminggu selepas itu, barulah Abang Harris pulang ke rumah. Aku memelukknya seakan tidak mahu ku lepaskan. Seminggu berjauhan, terasa seperti setahun. Alangkah rindunya hati ini. Sekali lagi air mata ku rembeskan tanpa dapat ditahan.

`’ Kenapa sayang abang menangis ni? Tak suka abang balik ke?” ujarnya lembut.

“Ain rindu abang. Rindu sangat. `’ Tangisku makin menjadi-jadi. Aku mengeratkan pelukanku. Dan dia juga membalas dengan penuh kehangatan
Abang pun rindu Ain. Abang rindu senyuman Ain. Boleh Ain senyum pada abang ? `’ Lembut tangannya memegang daguku dan mengangkat wajahku.

`’Abang ada teman baru. Mungkinkah abang masih rindu pada Ain ? `’Aku menduga keikhlasan bicaranya.

`’ Teman baru tidak mungkin sama dengan yang lama. Kan abang dah kata, sayang abang pada Ain masih seperti dulu. Tidak pernah berubah, malah semakin sayang. Seminggu abang berjauhan dari Ain, tentulah abang rindu. Rindu pada senyuman Ain, suara Ain, masakan Ain, sentuhan Ain. Semuanya itu tiada di tempat lain, hanya pada Ain saja. Senyumlah sayang, untuk abang. `’

Aku mengukir senyum penuh ikhlas. Aku yakin dengan kata-katanya. Aku tahu sayangnya masih utuh buatku.

Kini, genap sebulan Faizah menjadi maduku. Aku melayannya seperti adik sendiri. Hubungan kami yang dulunya baik bertambah mesra. Apa tidaknya, kami berkongsi sesuatu yang amat dekat di hati.
Dan, Faizah, menyedari dirinya adalah orang baru dalam keluarga, sentiasa berlapang dada menerima teguranku. Katanya, aku lebih mengenali Abang Harris dan dia tidak perlu bersusah payah untuk cuba mengorek sendiri apa yang disukai dan apa yang tidak disukai oleh Abang Harris. Aku, sebagai kakak, juga sentiasa berpesan kepada Faizah supaya sentiasa menghormati dan menjaga hati Abang Harris. Aku bersyukur, Faizah tidak pernah mengongkong suamiku. Giliran kami dihormatinya.

Walaupun kini masa untuk aku bersama dengan suamiku terbatas, tetapi aku dapat merasakan kebahagiaan yang semakin bertambah apabila kami bersama. Benarlah, perpisahan sementara menjadikan kami semakin rindu. Waktu bersama, kami manfaatkan sebaiknya. Alhamdulillah, suamiku tidak pernah mengabaikan aku dan Faizah. Aku tidak merasa kurang daripada kasih sayangnya malah aku merasakan sayangnya padaku bertambah. Kepulangannya kini sentiasa bersama sekurang-kurangnya sekuntum mawar merah. Dia menjadi semakin penyayang, semakin romantik. Aku rasa aku harus berterima kasih pada Faizah kerana kata suamiku, Faizahlah yang selalu mengingatkannya supaya jangan mensia-akan kasih sayangku padanya.

Memang aku tidak dapat menafikan, adakalanya aku digigit rindu apabila dia pulang untuk bersama-sama dengan Faizah. Rindu itu, aku ubati dengan zikrullah. Aku gunakan kesempatan ketiadaannya di rumah dengan menghabiskan masa bersama Kekasih Yang Agung. Aku habiskan masaku dengan mengalunkan ayat-ayatNya sebanyak mungkin. Sedikit demi sedikit kesedihan yang ku alami mula pudar. Ia diganti dengan rasa ketenangan. Aku tenang beribadat kepadaNya. Terasa diriku ini lebih hampir dengan Maha Pencipta.

Soal anak-anak, aku tidak mempunyai masalah kerana sememangnya aku mempunyai pembantu rumah setelah aku melahirkan anak kedua. Cuma, sewaktu mula-mula dulu, mereka kerap juga bertanya kemana abah mereka pergi, tak pulang ke rumah. Aku terangkan secara baik dengan mereka. Mereka punyai ibu baru. Makcik Faizah. Abah perlu temankan Makcik Faizah seperti abah temankan mama. Anak-anakku suka bila mengetahui Faizah juga menjadi `ibu’ mereka. Kata mereka, Makcik Izah baik. Mereka suka ada dua ibu. Lebih dari orang lain. Ahhh…anak-anak kecil. Apa yang kita terapkan itulah yang mereka terima. Aku tidak pernah menunjukkan riak kesedihan bila mereka bertanya tentang Faizah. Bagiku Faizah seperti adikku sendiri.

Kadang-kadang, bila memikirkan suamiku menyayangi seorang perempuan lain selain aku, memang aku rasa cemburu, rasa terluka. Aku cemburu mengingatkan belaian kasihnya itu dilimpahkan kepada orang lain. Aku terluka kerana di hatinya ada orang lain yang menjadi penghuni. Aisyah, isteri Rasulullah jua cemburukan Khadijah, insan yang telah tiada. Inikan pula aku, manusia biasa. Tapi….. ku kikis segala perasaan itu. Cemburu itukan fitrah wanita, tanda sayangkan suami.
Tetapi cemburu itu tidak harus dilayan. Kelak hati sendiri yang merana. Bagiku, kasih dan redha suami padaku itu yang penting, bukan kasihnya pada orang lain. Selagi aku tahu, kasihnya masih utuh buatku, aku sudah cukup bahagia. Dan aku yakin, ketaatan, kesetiaan dan kasih sayang yang tidak berbelah bahagi kepadanya itulah kunci kasihnya kepadaku. Aku ingin nafasku terhenti dalam keadaan redhanya padaku, supaya nanti Allah jua meredhai aku. Kerana sabda Rasulullah s.a.w

“Mana-mana wanita (isteri) yang meninggal dunia dalam keadaan suaminya meredhainya, maka ia akan masuk ke dalam syurga.” (Riwayat-Tirmizi, al-Hakim dan Ibnu Majah).

Sungguh bukan mudah aku melalui semuanya itu. Saban hari aku berperang dengan perasaan. Perasaan sayang, luka, marah, geram, cemburu semuanya bercampur aduk. Jiwaku sentiasa berperang antara kewarasan akal dan emosi. Pedih hatiku hanya Tuhan yang tahu. KepadaNyalah aku pohon kekuatan untuk menempuhi segala kepedihan itu. KepadaNyalah aku pinta kerahmatan dan kasih sayang, semoga keresahan hati ini kan berkurangan.

Namun, jika aku punya pilihan, pastinya aku tidak mahu bermadu. Kerana ia sesungguhnya memeritkan. Perlukan ketabahan dan kesabaran. Walau bagaimanapun, aku amat bersyukur kerana suamiku tidak pernah mengabaikan tanggungjawabnya. Dan aku juga bersyukur kerana menjadi intan terpilih untuk menerima ujian ini.

 

*Dari sebuah blog yang kulupa link nya

Aku Bukanlah Siti Nurbaya 10

Kematian lyan sangat menggoreskan luka dihatiku,bagaimanapun juga dia adalah sahabatku.kami pernah tinggal serumah saat dibandung dulu dan lyan telah kuanggap bagai adikku sendiri.

Pagi itu ada acara pertemuan yang di adakan majelis dan sengaja hari itu aku berangkat kala jam makan siang.karna ku berniat makan siang di restorant indonesia yang ada di sekitar majelis berada.

”Assalamu alaikum warohmatullahi wabarakatuhu,apa kabar semuanya”tanyaku pada sekumpulan orang indonesian yang kebetulan berada disitu.

”Waalaikum salam,kabar baik mbak’’sebagian teman menjawab salamku.Di train station itulah tempatnya para indonesian berkumpul untuk liburan menghilangkan kepenatan setelah 5 hari penat dalam pekerjaan.Kulihat di sudut ruangan ada seorang wanita yang tengah merokok dan berpenampilan sangat mirip dengan laki laki,Bahkan sebelumnya aku memanggilnya mas.karena ku kira dia seorang lelaki.kulihat rautnya bisa dikatakan ganteng.

”Bolehkah saya duduk disini”tanyaku padanya yang tengah memainkan gitarnya.

”eh silahkan mbak,monggoh silahkan bu”jawabnya gugup sambil melirikku.Setelah itu kami mengobrol banyak dan kuketahui namanya salami namun teman temannya memanggilnya Anthon.kupandangi Anthon dan kutebak bahwa dia menyukai sesama jenis atau disebut lesbi.Sejak pertemuan itu Lami selalu calling setiap waktu bahkan dengan keberaniannya ia menyatakan jatuh hati padaku dengan tidak merasa malu.

”Idah,Aku sangat rindu sekali kapan kita bertemu lagi’’suara call lami malam itu yang membuat aku muak,Namun ku berpikir lami bukan untuk dihindari tapi diperbaharui.

”Rindu sebagai mbak,saya masih bisa menerima tapi jangan kau rindukan aku jika kau anggap aku kekasihmu”jawabku dengan marah dan segera aku matikan hp ku.

Sejak lami mengenalku ia banyak perubahan.tidak lagi merokok dan tidak lagi minum alkohol.Namun cintanya padaku semakin menjadi. Pernah aku tanyakan mengapa dia menjadi begini lebih menyukai sesama jenis.Hari itu aku lihat lami menangis kala menceritakan perceraian orang tuanya kala ia masih kecil,Beranjak dewasa dia patah hati karena lelaki.mungkin masa lalu lami yang begitu getir hingga membuatnya jadi begini.

”Lami,mbak tahu dan paham perasaanmu karena mbak pun seorang ibu,naluri keibuanku bisa mengerti duka yan engkau rasakan”jawabku sambil mengusap air matanya.

”Lami sangat mencintai mbak’’suaranya dalam tangis

Betapa kaget diriku dengan ucapan lami sore itu,Aku tampar pipinya hingga membekas guratan tanganku di wajahnya.Tamparanku kali ini untuk menyadarkannya.Lami mengatakan telah jatuh hati padaku  Karena penampilanku,keramahan dan perhatianku.Itulah yang ia katakan dalam sela isak tangisnya siang itu.

Lami,Maaf tadi mbak menemparmu karena mbak sayang kamu sebagai sesama muslim.dan mbak tidak berharap lami terus hidup begini.Kita tidak selamanya muda dan tidak selamanya sehat.Segeralah sadar dan bertaubat sebelum terlambat.Sengaja aku ceritakan kematian suamiku dan kukisahkan pula kematian liyan dengan harapan kisah mereka bisa meyadarkan lami.

Jika lami mengaku sangat mencintai mbak,Berubahlah kejalan yang benar.dan mbak pun bisa lebih menyayangi lami.Bukankah lami tidak mau kehilangan mbak”kata kataku membuat tangisan lami berhenti.

”Iya mbak,lami akan berubah segalanya demi mbak,Tapi mbak harus mengajari lami”Ucap lami yang sangat membuatku bahagia.

Dalam belajar mesti bertahap.kita lihat saja proses kita menjadi seorang yang dewasa.dari seorang bayi yang tidak bisa apa apa hingga kini telah menjadi seorang yang bisa kemana mana.Sengaja aku belikan mukena dan alquranul kareem serta buku buku pedoman.Dengan harapan aku bisa mengubah hidup lami menjadi wanita kembali.Lami telah berubah dan mulai mengikuti aktivitas yang diadakan masjeed pusat kota.Aku merasa sangat bahagia karena aku mendapatkan pengganti lyan.

Semenjak kepergian suamiku,Pernah aku menjalani ta’aruf dengan seseorang yang keshalihannya tidak diragukan lagi.Sikap dan pribadinya telah membuat aku jatuh hati karena mengingatkannya pada suamiku terdahulu.Namun bukan berarti aku mencintainya hanya untuk dijadikan bayang bayang suamiku terdahulu.Cinta kami hadir hanya karena Allah semata.

Kita hanya bisa merencanakan dan berusaha namun faktor jodohlah yang menentukan seseorang itu bisa bersatu atau tidak.Ta’aruf hingga khitbah yang telah kami rencanakan harus berpisah ditengah jalan.Sakit pada awalnya namun aku belajar ikhlas karena aku tahu akh Alwi berbuat demikian karena satu hal yang tidak direncanakan sebelumnya.Akhir kisah kami berakhir sudah kala akh Alwi menikahi  akhwat lain untuk dijadikan pendampingnya.

”Assalamu alaykum ya ukhti, Ukhti adakah waktu untuk bicara dengan ana”Suara seorang ukhti yang menyapaku disore itu setelah pernikahan akh Alwi.Dan kuketahui jika orang yang menelponku adalah istri dari akh Alwi sendiri.Ukht juariyah.Suaranya sangat begitu lembut dan raman sekali beliau menyapaku.

”Bersediakah ukhti untuk menjadi adikku”tanya ukht juariyah padaku dan kami lakukan percakapan via web cam.kulihat wajahnya yang teduh dengan senyuman ia menyapaku.

”Oh tentu ukht,Dengan rasa senang hati ana menerimanya”Jawabku singkat karena memang dalam hatiku masih tak bisa melupakan duka itu.Namun sungguh dihatiku tidak pernah membenci akh Alwi maupun ukht jueriyah.Meskipun mereka telah membuatku kecewa.Aku tidak ingin hidupku ditengah rasa benci yang akan menyiksaku sendiri.

Namun ternyata aku salah mengerti karena yang dimaksud adik oleh ukht jueriyah ternyata adik dalam artian madunya atau istri kedua suaminya.Subhannalah tak terasa aku menangis mendengar penuturan ukht jueriyah.karena mencintai akh Alwi bukan hanya karena nafsu semata.Cinta nya pada akh Alwi hanya karena Allah semata hingga ia dengan memohonku untuk dijadikan madu nya.

Namun sayang permintaan itu aku tolak dengan caraku yang tidak menyakitinya.Dan ukht jueriyah pun mengerti dan paham akan diri dan hatiku.Setelah permohonan itu kami selalu menjaga silaturahmi dengan baik,Meskipun hanya sekedar pesan on ym atau call on phone ukht jueriyah sangat memperhatikan diriku dan bahkan pernah mengenalkan diriku dengan salah satu partner dakwahnya.Penolakanku membuat ukht jueriyah paham jika memang aku belumlah siap untuk membangun satu mahligai.

Tak terasa dua tahun telah berlalu.Berbagai cobaan hidup dalam kesendirianku banyak yang aku alami dan hingga kini aku masih bisa berbuat sabar dan ikhlas karena aku yakin keikhlasan sebuah kunci untuk menggapai kebahagiaan.Namun keikhlasan bukan berarti kita tidak mau berusaha.Prinsip itulah yang membuat hidupku kini merasa bahagia.

Ditengah kesendirianku tidak aku rasakan sepi,Karena ada keikhlasan menemaniku.Para sahabat dan teman entah nyata ataupun maya sangat memperhatikan diriku.Hilangkan rasa benci dalam hati kita itulah kunci satu kebahagiaan.Berbagai pengalaman pahit dan cobaan hidup yang membuat seseorang dewasa dan mungkin itulah diriku.

Malam itu kubuka sebuah kotak kecil peninggalan suamiku yang belum sempat kubuka karena kupikir isinya hanya perhiasan dan dan sebuah diary usang kami.kubuka dan kutemukan sebuah surat yang membuat terharu.Betapa teledornya aku hingga surat dari suamiku tidak pernah aku baca sebelumnya.Hingga setelah dua tahun barulah aku tahu apa yang ia tuliskan untukku.

      My love
Untaian kata yang indah tak mampu menandingi keindahan hatimu.. ijinkanlah aku tuk merangkai kata sebagai ucapan kasihku padamu, yang mungkin setelah kau baca suratku ,aku tiada lagi disisimu..

      My angel
Ucapan terima kasih tidaklah cukup aku ucapkan untukmu jika dibandingkan pengabdian yan kau berikan padaku,..
Kala kau anggukan kepala bersedia menjadi istriku,walau saat itu kau tahu umurku tiada lama..
Kala aku tersiksa dengan cancer yang aku derita,kau tidak pernah lelah memberiku semangat,hingga aku mampu bertahan dari waktu apa yang di perkiraan ilmu medis…

Kala aku marah karena derita yang kurasakan.Engkau tak pernah mengeluh karena amarahku,bahkan kau akan tersenyum di depan pintu dan menyapaku dengan sejuta kelembutan hatimu..
       my wife
Saat itu kau antar aku memasuki ruang surgical,Kau akan mencium keningku dan mengatakan”kau harus hidup untukku”hingga aku bersemangat tuk menang dalam surgical itu..
Seringkali aku masuki ruang surgical,dan kau selalu di sampingku hingga aku memasuki pintu masuk surgical.kala ku terbaring di bawah lampu operasi..aku hanya satu yang ada di hatiku””Aku harus hidup untuk istriku”..
      my wife
Walau aku tahu dengan surgical tetap akan membuatku mati..Namun aku masih terus berharap,Bisa memperpanjang waktu untuk bisa melihatmu..
Tiada pernah aku mendengar dengan keluhanmu atau kau hadir disisi ku dengan muka cemberut,Betapa mulia dan ikhlasnya dirimu wahai istriku..
Kala malam sakit itu datang,Tak usah aku bangunkan dirimu namun engkau akan bangun dengan sendirinya tuk mengambilkan obat untuku.
Kala aku merasa tersiksa dengan sakit yang aku derita,kau akan disisi ku tuk terus memberikan ucapan yang bisa mengurangi rasa sakit itu.
Kala musim dingin tengah malam kau rela pergi keluar hanya untuk membeli kain kasa untuk memperban jari jemariku yang berdarah karena kuku tanganku lepas sendirinya pengaruh dari kometerapi yang aku lakukan..
     my wife
Kala tengah malam Ayahku membangunkanmu hanya untuk menggore ngkan nasi kau pun terbangun dengan senyuman khasmu..
Jika aku katakan”mengapa kau berbuat demikian?engkau pasti akan menjawab ”Ini suatu kewajiban”.
Berulang kali aku down masuk hospital,aku pikir itulah saat terakhirku untuk melihatmu,Karena dorongan semangatmulah yang membuat aku mampu melawan sel cancer yang tengah bersemayam dalam tubuhku.

    Wahai my angel
Akhir deritaku..Terasa sakit namun aku sembunyikan darimu,karena aku tidak berharap kau akan menangis karena deritaku….
Terkadang ingin aku cari satu cela darimu namun hingga kini aku tuliskan surat ini cela itu tidak aku dapatkan.
Suaramu kala kau bacakan AlQur’an untukku sangat membuatku merasa teduh walau tidak ku mengerti maknanya apa yang kau baca
Suatu hari aku pergi jangan kau lagi menangis,Jangan kau merasa takut,Tiada orang yang akan menyakitimu..Seperti apa yang kau bilang”memetik buah tergantung buah apa yang kita tanam”

takecare
your husband

Berlinanglah air mataku kala aku baca selembar surat peninggalannya setelah dua tahun ia tuliskan.Betapa indah satu mahligai yang kami bangun karena didalamnya ada pengorbanan dan kasih sayang yang sulit aku gambarkan.Meski kemanisan itu hanya aku rasakan dalam hitungan bulan.

”Mbak,lami akan menikah bulan depan”itulah satu pesan yang masuk ke inbox hp ku malam itu.kulihat rupanya pesan dari lami.

Alhamdulilah akhirnya lami benar benar jadi seorang wanita.Tidak sia sia waktuku selama ini untuk mengubahnya.Rasa senang dan doa tulus buat para sahabatku semoga senantiasa berada dalam berkahNYA itulah satu doa yang selalu aku panjatkan untuk mereka.Lami akan segera menikah dengan pria yang siap menerima kelebihan dan kekurangannya.

Tak terasa waktu terasa cepat berjalan,Dan aku masih di sweden dengan ibunda suamiku.Beliau bunda yang sangat  menyayangiku bahkan aku lebih memilih tidur dengan beliau daripada di kamarku sendiri.Kasih sayang yang aku dapatkan tidak pernah berkurang darinya dan itulah yang membuat aku tidak tega untuk meninggalkan beliau.Aku hanya ingin membahagiakan bunda dihari tuanya.Karena satu yang pelajaran yang aku ambil”Sayangi seseorang itu selagi ada”..

« Entri lama